04/06/2026
Taktik Ruben Amorim di Manchester United Menang tapi Masih

Beritabola206.com – Ruben Amorim perlahan mulai menciptakan jejaknya di Manchester United. Perubahan struktur permainan mulai terlihat dan hasil positif pun mulai datang, termasuk kemenangan tipis atas Newcastle United di Old Trafford baru-baru ini.

Sayangnya, di balik tren positif tersebut, ada satu isu yang terus berulang. Manchester United masih kesulitan mengontrol pertandingan, terutama ketika sudah unggul dan dipaksa bertahan dalam durasi yang lama.

Amorim sendiri menyadari tantangan tersebut. Ia menilai fondasi tim sudah mulai terbentuk, tetapi ia menegaskan bahwa evolusi taktik Setan Merah belum sepenuhnya selesai.

Evolusi Amorim: Bukan Sekadar Mengubah Formasi

Sejak tiba di Old Trafford pada November 2024, Ruben Amorim menegaskan bahwa perubahan besar tidak akan terjadi secara instan. Ia pernah mengibaratkan pergantian sistem seperti Paus yang diminta mengubah keyakinan—sebuah metafora kuat tentang pentingnya proses dan tahapan dalam membangun identitas tim.

Dalam sebuah konferensi pers, Amorim menekankan bahwa evolusi adalah keniscayaan bagi klub sebesar Manchester United. Namun, menurut pelatih asal Portugal tersebut, setiap langkah harus diperhitungkan dampaknya terhadap keseimbangan tim secara menyeluruh.

Pendekatan itu tercermin dalam fleksibilitas taktik MU. Meski dikenal identik dengan sistem tiga bek, Amorim terbukti tidak kaku. Struktur permainan United kini bisa berubah drastis sesuai fase laga, mulai dari skema build-up, pola pressing tinggi, hingga cara bertahan dalam blok rendah.

Baca Juga : Atalanta vs Inter: Rating Pemain Nerazzurri, Lautaro Martinez Penentu Kemenangan

Variasi Bentuk MU di Bawah Amorim

Di atas kertas, Manchester United sering terlihat menggunakan formasi tiga bek. Namun, dalam praktiknya, bentuk tim kerap bergeser secara dinamis. Dalam beberapa laga awal, United bahkan berani menekan lawan dengan struktur 4-4-2 yang agresif.

Melawan Bournemouth, misalnya, Amad Diallo tampil lebih tinggi dibandingkan Diogo Dalot dalam skema yang menyerupai 3-4-3 “timpang”. Sementara saat menang 1-0 atas Newcastle United, struktur 4-2-3-1 terlihat jelas ketika United menguasai bola, dengan Matheus Cunha diberikan kebebasan bergerak dari sisi kiri.

Perubahan paling mencolok justru muncul saat tim bertahan di blok menengah. Dalam beberapa laga terakhir, United mulai meninggalkan pola lima bek murni. Mereka sempat bereksperimen bertahan dengan formasi 4-4-2, 4-3-3, hingga 4-2-3-1, tergantung pada profil lawan dan konteks pertandingan.

Disiplin Bertahan MU yang Menekan Newcastle

Keputusan Amorim menggunakan struktur 4-2-3-1 saat bertahan melawan Newcastle bukan tanpa alasan teknis. Tiga gelandang The Magpies dikenal sangat agresif dan dinamis, sehingga United memilih pendekatan man-to-man marking yang ketat di lini tengah.

Di babak pertama, Mason Mount, Manuel Ugarte, dan Casemiro bekerja dengan disiplin tinggi. Mereka menempel ketat pergerakan Bruno Guimaraes, Jacob Ramsey, dan Sandro Tonali. Di lini belakang, Lisandro Martinez atau Ayden Heaven sering naik menekan penyerang lawan yang turun ke tengah untuk menjemput bola.

Pendekatan ini terbukti efektif. Newcastle kesulitan menemukan ruang di antara lini, dan ancaman mereka sebagian besar berhasil diredam. Bahkan ketika lini belakang United harus bergeser akibat overload di sisi sayap, Casemiro dan Ugarte sigap menutup celah yang ditinggalkan rekan-rekannya. Secara defensif, babak pertama tersebut menjadi salah satu penampilan terbaik Manchester United di era Amorim.

Babak Kedua Man United: Ketika Kontrol Mulai Hilang

Masalah klasik mulai muncul setelah jeda turun minum. Intensitas bertahan yang tinggi mulai menggerus stamina dan konsentrasi para pemain. Merespons hal ini, Amorim melakukan pergantian pemain dengan memasukkan Joshua Zirkzee dan Leny Yoro, sambil mengubah profil pemain sayap untuk menahan tekanan dari sisi lapangan.

Diogo Dalot didorong lebih tinggi di sisi kanan, sementara Patrick Dorgu berpindah ke sektor kiri. Tujuannya jelas: memberikan perlindungan ekstra bagi bek sayap dalam menghadapi ancaman lebar dari pemain sayap Newcastle.

Sayangnya, seiring berjalannya waktu, United mulai kehilangan kendali permainan. Gelandang Newcastle tidak lagi dijaga seketat pada babak pertama. Pergerakan tanpa bola dari Guimaraes dan Tonali mulai menciptakan ruang berbahaya, terutama di 10 menit terakhir saat United dipaksa bertahan sangat dalam.

Amorim mengakui situasi sulit itu selepas laga. Ia menilai timnya harus “menderita” lebih banyak dibandingkan pertandingan lainnya, meski ia mengaku puas melihat para pemain rela berkorban secara fisik demi menghalau setiap bola. Dalam pandangan Amorim, kunci persoalan MU saat ini ada pada satu kata: Kontrol. Minimnya penguasaan bola di babak kedua memaksa United terus bertahan, kondisi yang sangat cepat menguras tenaga dan fokus pemain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *